Keajaiban di Pasar Senen Book Pdf ePub

Keajaiban di Pasar Senen

by
4.03394 votes • 50 reviews
Published 01 Sep 2008
Keajaiban di Pasar Senen.pdf
Format Paperback
Pages177
Edition3
Publisher KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
ISBN 9799101298
ISBN139789799101297
Languageind



Sebanyak 17 cerita dalam buku ini-lima diantaranya belum pernah disertakan dalam terbitan pertama,1971-akan membawa kita ke dalam situasi Indonesia tahun 1950-an yang romantik. Itulah masa ketika Pasar Senen menjadi tempat berkumpulnya para seniman muda, sejalan dengan mulainya kegiatan pembuatan film nasional dan ramainya pementasan sandiwara.
Dengan lincah Misbach Yusa Biran menceritakan kehidupan Seniman Senen yang melegenda itu, kehidupan yang penuh "keajaiban". bayangkan, betapa tidak ajaib bila lukisan yang dipasang terbalik demi mengolok-olok pelukisnya ternyata malah dianggap karya besar dan dibayar mahal?
Meski ditulis sekitar 50 tahun silam, keajaiban-keajaiban kehidupan Seniman Senen yang dipaparkan oleh Misbach tetap bisa dinikmati oleh generasi sekarang.
DDC: 813

"Keajaiban di Pasar Senen" Reviews

Azhar Rijal
- Bandung, Jawa Barat, Indonesia
4
Wed, 14 Mar 2012

Buku ini sangat fenomenal bagi saya, saya mendapatkan buku ini (Pustaka Jaya 1996) tanggal 10 April dan langsung membacanya. Sehari setelahnya, Misbach Yusa Biran meninggal dunia. Saya begitu terkejut mendengar berita tersebut. Indonesia kehilangan satu lagi maestro di dunia perfilman.
***
Keajaiban di Pasar Senen adalah sebentuk upaya menertawakan diri sendiri, mencoba membongkar kembali apa itu seni. Dengan 'usil', Biran mencukil peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun 50-an di Pasar Senen yang saat itu memang menjadi tempat berkumpulnya para seniman (seniman tulen dan seniman-seniman gadungan). Kelebihannya saya pikir ada di kedekatan penulis dengan peristiwanya, dengan begitu Biran dapat mengangkat peristiwa sederhana yang menarik. Tidak ada kesan sedikitpun untuk mengeneralisir, apalagi menyimpulkan. Ia hanya berupaya memotret sebagian sudut kota, mengangkat sepotong fenomena urban yang memang pernah menjadi bagian dari tumbuh-kembangnya dunia seni Indonesia tahun 50-an.
Saya membaca buku ini bersama-sama dengan KLAB BACA TOBUCIL, yang kebetulan saat itu hadir wartawan media cetak, jurnalis, dan seniman rupa. Kita semua terbahak sampai tak tahan, jelas sedikit banyak diantra kita merasa sentilan-sentilan Biran sangat menohok. HOME RUN!!!
Ya begitulah cara Biran mengolok-olok dunianya sendiri, dunia kita, juga dunia anda semua. Buku ini adalah sebentuk cara untuk menertawai diri kita sendiri.
Selamat jalan Misbach Yusa Biran, Indonesia berhutang banyak pada anda.

gonk bukan pahlawan berwajah tampan
- Indonesia
4
Tue, 04 Nov 2008

Bener-bener luaaaarr biasa, straordinari, cukilan peristiwa2 menarik pasca Indonesia 1950-an diabadikan oleh Misbach dengan mengagumkan.
Buku ini merupakan edisi tambahan -begitu istilah penerbitnya- dari buku yang sama yang pernah terbit di tahun 1971.
Dalam prakatanya, pengarang bercerita soal keadaan kawasan Senen sekitar zaman revolusi 1950-an. Bagi kita yang pernah mendengar 'geng cobra' dan komandannya bang pi'i yang melegenda, simak saja ulasannya di sini. Pun tempat2 nongkrong favorit di kawasan Senen bagi para "seniman" -yang menurut pengarang lebih ke "sok seniman"- masa itu.
Berisi 17 cerpen, buku ini sungguh menjadi sebuah kritik, satire, sindiran bagi realitas kehidupan modern generasi kita sekarang. Dengan zaman yang sudah berbeda, toh permasalahan yang dihadapi relatif berulang di tiap zamannya.
Komedi yang lepas kadang terasa getir dan memilukan, menjadi sindiran yang pas bagi masyarakat kita.
Ahh, buku ini pun menjadi "keajaiban" bagi Indonesia

Muhammad
- Bandung, Indonesia
4
Tue, 14 Jan 2014

ImageSaya dengan begitu yakin sempat berkata bahwa kuliner bubur ayam paling enak adalah yang mamang penjualnya berjualan di sekitar pasar tradisional. Di Bandung tempat saya tinggal, saya berani bertaruh jika di malam atau dini hari dalam keadaan lapar, cobalah cari gerobak-gerobak penjual bubur ayam di sekitar pasar-pasar tradisional dan rasakan kenikmatannya! Di Jakarta ada sebuah pasar yang mungkin popularitasnya telah melewati ratusan masa generasi muda. Saya sedang berbicara tentang Pasar Senen yang terakhir kali saya kunjungi penuh dengan kekhawatiran bakal kena copet atau jambret! Saya tidak yakin benar bahwa di sana pun berdiri penjual bubur ayam yang enak. Tapi selanjutnya saya tidak akan membicarakan bubur ayam, apalagi bubur ayam pake kacang (saya selalu minta tidak pakai kacang kalau beli bubur ayam karena namanya akan jadi bubur kacang).
Rupanya pada sebuah generasi muda pasca kemerdekaan, sempat berkibar tinggi bendera kebudayaan di sebuah pasar yang awalnya bernama Pasar Snees dan hanya buka di hari Senin. Tetapi ini bukan bendera kebudayaan borjuistik yang anggotanya hobi berkumpul dalam gedung kesenian sambil menghisap cerutu dan pandai berbicara dalam bahasa Belanda. Bukan itu. Pada dekade 50-an daerah ini cukup dikenal sebagai lumbungnya para seniman nyentrik. Benar-benar yang mereka pikirkan saat berkumpul di Pasar Senen hanya seni, seni, seni, seni, kopi, seni, duit, seni, cewek, seni, dan hutang. Ada yang benar-benar mengabdikan diri kepada seni sebagai profesi, ada yang ingin menjadikan seni sebagai jalan hidup, ada yang hanya tahu berpakaian ala seniman tapi bingung ia berada di bidang kesenian yang mana, ada pula yang hanya asyik mengikuti kegiatan komunal di tempat-tempat keramat sekitar Pasar Senen dan mencatat perbincangan mereka. Misbach Yusa Biran adalah jenis seniman yang terakhir. Toh diperlukan seni mendengar, mencatat, menulis, dan mengingat yang baik agar dapat dijadikan kumpulan cerita di buku ini.
Agar lebih meninggikan harkat dan posisi pentingnya dalam sejarah kebudayaan Indonesia, ada baiknya diketahui terlebih dahulu oleh para pembaca yang budiman bahwa komunitas seniman Pasar Senen-atau cukup disebut Seniman Senen- banyak melahirkan alumnus yang memiliki pengaruh besar di ranah kebudayaan. Selain Misbach Yusa Biran, Djamaludin Malik, Usmar Ismail, Soekarno M. Noer, dan Mak Wok yang sukses di bidang perfilman, ada pula Delsy Syamsumar yang sukses dalam seni lukis. Dan yang paling terkemuka adalah tuan Chairil Anwar di bidang reparasi seni kata yang menurut sassus sering berkeliaran di Pasar Senen juga. Baiklah, itu nama-nama beken Seniman Senen. Tapi sepertinya nama-nama tersebut tidak termasuk menarik bagi penulis. Baginya cerita-cerita sepele dari seniman-seniman anonim Pasar Senen-lah yang justru membuat ceritanya begitu hidup dan menggelora sebesar Gelora Bung Karno.
Perkara minum kopi dan merokok saja sudah jadi bahan yang bikin pening kepala para seniman. Belum lagi segala intrik meminjam duit kepada kawan atau "nembak" langsung redaktur majalah agar upah karya tulis yang mereka kirim segera dicairkan saja.
Dalam cerita-ceritanya ini akan terasa bahwa Misbach Yusa Biran tengah menertawakan perilaku sebuah kelompok, sebuah masa yang juga ia ikut masuk di dalamnya. Tertawaan yang romantik dan jikalau seniman-seniman itu masih hidup dan membaca ulang kisah-kisah di dalam buku ini saya yakin mereka akan tertawa puas seperti saat saya membaca sebagian besar cerita di dalamnya. Tetapi, bukan cerita-cerita Misbach Yusa Biran yang membuat para Seniman Senen ini menarik, melainkan perilaku para seniman itu sendiri yang membuatnya menjadi lucu, absurd, namun tidak menjadi cerita njelimet seperti Sameul Beckett atau Budi Darma. Tugas penulis hanyalah membuatnya menjadi enak dibaca saja, dan itulah kepandaian seni Bung Biran ini.
Bagi pembaca yang senang dengan hal-hal bersifat "masa lalu", vintage, klasik, oldskool, atau apapunlah itu sebutannya, buku Keajaiban di Pasar Senen menjanjikan petualangan imajinasi yang mengesankan. Saat membacanya saya selalu membayangkan gaya berpakaian para seniman nyentrik ini. Rambut gondrong, kemeja berkerah sebesar atap gedung DPR, celana cutbray selebar lapangan parkir gedung DPR, gaya berbicara yang begitu flamboyan seperti para oposan anggota DPR, bahan pembicaraan yang begitu berat dan mengurat (juga seperti oposan DPR), optimisme setinggi gedung DPR, tetapi dekil minta ampun.
" 'Dan apa yang akan kau lakukan kalau dapat hadiah itu, Rusidi?' tanya Askar. Rusdi adalah seorang aktor, pemain drama, film, atau melawak, juga menari dan lain-lain.
'Aku,' jawabnya tenang pakai gaya, 'yang paling pertama akan kulakukan dengan uang itu ialah... makan sepuas-puasnya dan minum. Sudah terang tiga puluh botol bir akan kuletakkan di atas meja dan kita minum bersama.' Semua kawan kontan tertawa seperti mereka sudah mulai mabuk. Senang benar semunya.
'Tentu aku boleh turut minum, Rus?' tanya Tirta, seorang pemain drama juga.
'Tentu, tentu,' jawab Rusti kontan, 'kalau kurang bir-nya kita tambah lagi. Minumlah sampai puas, atau jangan samasekali. Sudah itu, kita hitung bersama-sama sisa uang itu. Aku hanya butuh uang untuk beli dua celana dan dua baju. Lebihnya, lebihnya kita pakai untuk senang-senang. Puaskan hidup ini...!!!' kata Rusdi dalam gaya seorang aktor tulen, dan sekalian kawan-kawan jadi segar sekali mendengar penjelasannya.' " - Hadiah Rp6.724,52? (dalam Keajaiban di Pasar Senen 2008: 153-154)
Setelah dihajar oleh cerita-cerita lucu dan absurd para Seniman Senen, pamungkas kumpulan cerpen inipun membuat saya tersenyum getir. The Glory Is Over adalah judul cerpen pamungkas Keajaiban di Pasar Senen. Sebuah ode bagi kejayaan masa lalu yang sepertinya tidak perlu dirayakan tetapi dikenang saja. Pada akhirnya bendera yang digerek setinggi langit di Pasar Senen oleh para seniman harus juga diturunkan, dilipat kembali, dan disimpan dalam lemari kenangan. Sesekali bolehlah bendera tersebut dikibarkan kembali dalam acara reuni akbar. Tetapi, the glory is over, Bung...

Seftian
- Jakarta, 04, Indonesia
4
Thu, 10 Oct 2013

Keajaiban di Pasar Senen

Angginovi
- Jakarta, 04, Indonesia
0
Wed, 08 Oct 2014

https://www.goodreads.com/book/show/5...

Vera
- Jakarta, 04, Indonesia
0
Sat, 20 Sep 2014

read a book

Smiliar Books of "Keajaiban di Pasar Senen"