Vita Brevis: A Letter to St Augustine Book Pdf ePub

Vita Brevis: A Letter to St Augustine

by
3.673,575 votes • 254 reviews
Published 05 Oct 2000
Vita Brevis: A Letter to St Augustine.pdf
Format Paperback
Pages164
Edition49
Publisher Phoenix
ISBN 0753804611
ISBN139780753804612
Languageeng



A box of Ltin manuscripts comes to light in an Argentine flea market. An apocyphral invention by some 17th or 18th century scolar, or a transcrpit of what it appears to be - a hitherto unheard of letter to St Augustine to a woman he renounced for chastity? VITA BREVIS is both an entrancing human document and a fascinating insight into the life and philosophy of St.Augustine. Gaarder'sinterpretation of Floria's letter is as playful, inventive and questioning as Sophie's World. About The Author: Jostein Gaarder was born in Olso, Norway on August 8, 1952. A former high school philosophy teacher, he now writes numerous novels for children and adults. His best known work is Sophie's World. He has received numerous awards including the Deutscher Jugendliteraturpreis in 1994 for Sophie's World, the Buxtehude Bulle in 1997, and the Willy-Brandt-Award in 2004.

"Vita Brevis: A Letter to St Augustine" Reviews

Raha
- Tehran , Iran, Iran
5
Tue, 19 Sep 2017

این کتاب در حقیقت نقد نامه ایست که توسط زنی به نام "فلوریا" خطاب به "آگوستین قدیس" ، فیلسوف و نظریه پرداز قرن چهارم ، نوشته شده. "فلوریا" برای مدت دوازده سال معشوقه ی "آگوستین" بود تا روزی که "آگوستین" به مذهب مسیحیت می پیوندد و پس از شکل گیری یک انقلاب روحی در وجودش ، "فلوریا" را از خود می راند و چه خیانتی بالاتر از آنکه آدم معشوقه اش را به خاطر نجات روحش ترک کند !؟
فلوریا در این نامه بیشتر از "آگوستین"، خدایی را به باد انتقاد می گیرد که زندگی زنی را به باد می دهد تا روح مردی را رستگار کند... راستی که چه سخت است باور به چنین خدایی
نوک تیز انتقادات "فلوریا" ، مذهبی را نشانه می گیرد که جلوه های مادی زندگی را انکار می کند و پیروانش را از لذت بردن از تمامی زیبای های دنیوی نهی می کند
کتاب به زبانی ساده و تاثیر گذار نوشته شده . نویسنده به زیرکی ، نه تنها تفکر شخص آگوستین قدیس، که مکتب جمعی کلیسای کاتولیک را به چالش می‌کشد
بخش هایی از کتاب
چه بسا روزی هم تو را به دلیل آنکه به تمام لذت های زندگی پشت کردی ، داوری کنند. تو عشق را انکار می کنی ، شاید بشود آن را بخشید .اما انکار عشق به نام خداوند !؟ هرگز
---
من به خدایی که از آدم قربانی می خواهد باور ندارم.من به خدایی که زندگی زنی را به باد می دهد تا روح مردی را رستگار کند ایمان ندارم
---
خداوند بالاتر از همه چیز خواهان زندگی پارسایانه بنده است . چه سخت است باور به چنین خدایی
---
ما انسانیم ، "اورل" . ما باید نخست زندگی کنیم پس آنگاه ، بله آنگاه می توانیم فلسفه بافی کنیم
---
به قول سیسرون : هیچ کلام مهملی نیست که فیلسوفی آن را بیان نکرده باشد

kian
3
Mon, 12 Mar 2018

اسقف عزيز!
اجازه نميدهم غسل تعميدم دهيد! اين خدا نيست كه من از آن وحشت دارم. احساس ميكنم هم اكنون با او زندگي ميكنم. چون مگر او نبوده كه مرا خلق كرده است؟ حتي از ناصري ها هم خودم را دور نگه نميدارم.. شايد مسيح مرد خدا باشد. او حتي در برابر زنان، عادلانه رفتار ميكرد. وحشت بزرگ من از الهيات و پيروان آن است. شايد خداي ناصري ها، شما را به خاطر تمامي احساسات و عشقي كه دست رد به سينه شان ميزنيد و آنها را مردود ميدانيد، ببخشايد...
خيلي اتفاقي اين كتاب رو خوندم.. چيزي درموردش نميدونستم... قابل تامل بود.. و آدم رو به فكر مي برد...

Pandasurya
- Bandung, Jakarta, Indonesia
5
Wed, 30 Mar 2011

Aurel Yang Malang
Praktisnya memang bisa dibilang buku ini bukanlah karya Jostein Gaarder, tapi dia hanya menerjemahkan surat panjang yang ia temukan pada sebuah pameran buku di Buenos Aires, Argentina pada 1995. Surat yang konon dibuat pada abad ke-5 ini berisi tanggapan seorang perempuan bernama Floria kepada kekasihnya yaitu Aurel (Santo Agustinus, salah seorang Bapak Gereja yang berpengaruh hingga kini) atas buku Pengakuan (Confessiones) yang ditulis Santo Agustinus.
Dan inilah cuplikan surat Floria yang menggambarkan pemikirannya yang kritis-brilian-dahsyat itu:
Kau menjauhkan aku karena kau terlalu mencintaiku, katamu. Wajar, tentu saja, untuk bertahan di sisi pasangan yang dicintai. Tetapi kau melakukan kebalikannya, karena kau sudah mulai menganggap remeh perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan. Kau berpikir bahwa aku membelenggumu kepada dunia panca indra, tanpa menyisakan kedamaian dan kesunyian yang dapat membuatmu berkonsentrasi pada keselamatan jiwamu...Tuhan menginginkan di atas segalanya, agar manusia hidup dengan menahan nafsu, tulismu. Aku tidak percaya pada Tuhan yang demikian (h. 16-17)
Bukankah benar-benar tidak setia menelantarkan seseorang yang dicintai demi keselamatan jiwa sendiri? Bukankah akan lebih mudah bagi seorang perempuan untuk menanggung kenyataan bahwa seorang laki-laki meninggalkannya karena ia ingin menikah—atau dalam hal ini, bila ia menginginkan perempuan lain? TetapI tidak ada perempuan lain dalam hidupmu. Kau hanya lebih mencintai jiwamu sendiri daripada diriku. Jiwamu sendiri, Aurel, itulah yang ingin kau selamatkan, jiwa yang pernah kau temukan di dalam diriku. (h. 18)
Aku harus menemukan apa yang dikatakan ajaran-ajaran filsafat tentang hal-hal yang memisahkan pasangan yang saling mencinta. Kalau kau telah tertarik pada perempuan lain, aku mungkin saja ingin bertemu dengannya. Tetapi sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, ia adalah sebuah prinsip filsafat. Maka, agar aku dapat mengerti dirimu dengan lebih baik, paling tidak aku harus berada pada jalan yang sama dengan yang telah kau tempuh. Aku harus membaca ajaran-ajaran filsafat…Sainganku bukan hanya sainganku sendiri. Ia adalah saingan semua perempuan, ia adalah malaikat maut bagi cinta itu sendiri. Kau menyebutnya sebagai Pengendalian Diri. (h. 21-22)
Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya (Horace, h. 23)
Ada satu hal khusus yang aku sukai dalam nasihat Cicero: ia memacuku untuk tidak mencari arah filosofis tertentu, melainkan untuk mencintai dan mencari serta memenangkan kebenaran itu sendiri…Dan kebenaran, Aurel, adalah hal yang telah mendorongku membaca tentang filsuf dan pujangga-pujangga terkenal. Sejak kita berpisah, aku telah mencurahkan seluruh hidupku untuk kebenaran—sama seperti kau dulu pergi untuk mencurahkan dirimu berkonsentrasi pada Pengendalian Diri. Aku masih mengasihimu, walapun harus kukatakan bahwa saat ini aku masih lebih mengasihi kebenaran (h. 23)
Kau merujuk pada kata-kata Paulus bahwa “baik bagi seorang laki-laki untuk tidak menyentuh seorang perempuan”. Dan Aurel sayang, mengapa kau hanya menuliskan ayat ini? Tidakkah kau belajar di sekolah retorika tentang bahayanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya? (h. 39)
Aku ingat saat kita duduk di bawah sebuah pohon Ara. Sambil mengerdip pada matahari, aku memandangmu. Aku pasti melakukannya dengan cara yang begitu memikat, karena kau menahan tatapanku sambil memandang turun ke tanah dengan ragu sekali atau dua kali sebelum kau menatapku kembali. Rasanya nyaris seperti kita pernah hidup bersama. Aku langsung menyadari bahwa aku dapat mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwa. ..Kemudian kita berbicara tentang kehidupan dan cinta secara umum. Aku sepertinya ingat betapa kau sangat terkejut melihatku dengan begitu santai membela tindakan Dido yang memperjuangkan cinta. Seakan-akan kau bertanya padaku dengan tatapanmu, apakah seorang perempuan dapat benar-benar mencintai seorang laki-laki sehingga ia akan mengorbankan nyawanya sendiri bila ia dikhianati. (h. 45- 46)
Kau tidak menyembunyikan betapa dalam dan kuatnya kau membenci Venus. Dia, Aurel, adalah jembatan permata yang menghubungkan jiwa kita yang kesepian dan penuh ketakutan. Tetapi bukan itu saja. Kini kau juga membenci segala kesenangan seksual. Dan lebih lagi, kau tak henti menghina panca indra itu sendiri. Sungguh, kau telah berubah menjadi seorang kasim!
Saat ini kau memandang rendah segala indra serta semua buah dan minuman anggur yang mereka tawarkan pada jiwa kita. Tetapi bukan itu saja. Kau mulai membual kepada Tuhan tentang betapa kini kau sadar telahmemandang rendah seluruh ciptaan-Nya. Kau melakukan ini, katamu, karena kau melihat “cahaya” dengan mata hatimu.
Kulihat kau telahkehilangan arah hidupmu di tengah-tengah para teolog. Pekerjaan yang sangat menyedihkan! Bagaimana mungkin yang kecil memimpin yang besar? Bagaimana mungkin sebuah ciptaan mendefinisikan penciptanya? Juga, bagaimana mungkin sebuah ciptaan dapat menentukan bahwa dirinya akan berhenti berfungsi sebagai sebuah ciptaan?
Kita adalah manusia hasil ciptaan, Aurel. Dan kita diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh berusaha untuk hidup sebagai sesuatu kecuali sebagai diri kita sendiri. Bukankah dengan demikian kita mengejek Tuhan? Kita adalah manusia, Aurel. Pertama-tama kita harus hidup, kemudian—ya—kemudian kita bisa berfilsafat.

Apakah aku tidak lebih dari tubuh seorang perempuan bagimu? Kau tahu bahwa hal itu tidak benar. Dan bagaimana pula kau dapat membedakan tubuh dengan jiwa? Bukankah dengan demikian kau berusaha mengacaukan proses penciptaan yang telah dilakukan Tuhan? Oh ya, tentu saja, macanku yang tak beriman. Ketika kau mencengkeramku dengan belaianmu yang tajam, kau juga mencabik jiwaku. (h. 51-53)
Masihkah kau dapat mengingat bagaimana kau bercinta denganku dan seolah-olah mengeratkan tiap kuncup sebelum ia terbuka? Betapa kau menikmati diriku di dalam dirimu! Bagaimana kau membiarkan dirimu diracuni oleh wewangianku! Bagaimana kau menyantap sari-sariku! Dan kemudian kau pergi dan menjualku, demi keselamatan jiwamu. Betapa tidak setia, Aurel, kau seharusnya merasa bersalah! Tidak, aku tidak percaya pada Tuhan yang menuntut korban manusia. Aku tidak percaya pada Tuhan yang menyia-nyiakan hidup seorang perempuan demi menyelamatkan nyawa seorang laki-laki. (h. 59)
Hidup sangatlah singkat, dan kita tak pernah benar-benar yakin akan adanya keabadian bagi jiwa kita yang rapuh. Mungkin kehidupan inilah kehidupan kita satu-satunya. Kau tidak akan mau mempercayai itu, Aurel. Kau akan mengobrak-abrik otakmu hingga kau menemukan keabadian bagi jiwamu sepertinya lebih penting bagimu untuk menyelamatkan jiwamu dari hukuman abadi, ketimbang untuk menyelamatkan hubungan kita. (h. 68)
Bagaimana bila ternyata tidak ada surga di atas sana, Aurel? Bayangkan bahwa hanya untuk hidup inilah kita diciptakan! (h.80)
Hidup ini singkat, terlalu singkat. Namun mungkin hanya kini dan di sinilah kita hidup. ..Kita tidak hidup selamanya, Aurel. Tapi itu tidak berarti bahwa kita harus membuat hari-hari yang telah diberikan kepada kita menjadi hampa. (h. 102)
Hidup begitu singkat, kita tidak punya waktu untuk menghakimi dan mengutuk cinta. Pertama-tama kita harus hidup, Aurel, kemudian baru kita bisa berfilsafat. (h. 121)
Keluarlah, Aurel! Keluar dan berbaringlah di bawah pohon ara. Gunakanlah indra-indramu—gunakan untuk terakhir kalinya. Demi aku, Aurel, dan untuk segala yang pernah kita miliki bersama. Bernapaslah, dengarkanlah nyanyian-nyanyian burung, pandanglah kubah di langit dan hiruplah segala wewangian untukmu sendiri. Inilah dunia, Aurel, dan ia hadir di sini saat ini. Di sini, dan sekarang. Kau pernah terjebak ke dalam labirin para teolog dan para penganut Plato. Kini tidak lagi. Sekarang kau telah kembali ke dunia, ke tempat tinggal manusia. (h. 146)
Dan pada akhirnya memang kita tidak sekadar bicara tentang tanah, air dan udara, tapi kita juga berbincang tentang manusia, bumi manusia dengan segala persoalannya.
Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?
(Goenawan Mohamad, Caping 2,h. 72)
***
ripiu singkatnya kurang lebih begini:
buku ini hampir semua kalimatnya pingin saya kutip karna dahsyat kata2nya, menohok, menelanjangi, membongkar, menggeledah sejumlah aspek penting keimanan, filsafat, teologi, tuhan, sufi, cinta, indrawi, jasmani, rohani, dst..haha..:D mangstaabb lah
rangkaian kata2nya memukau sampai akhir:)
buat sebagian orang mungkin tema2 itu termasuk berat, tapi buku ini memaparkannya dalam bentuk surat yang cukup mudah dicerna orang awam.
percayalah..haha:D
***
keren sekaleh buku ini
komentar dan kutipan segera menyusul
kalo inget;p
***
baru ampe setengah buku dlm sekali baca..udah terasa ini buku keren banged isinya, terjemahannya juga okeh, enak bacanya..

Caitlin
- Adelaide, 07, Australia
5
Wed, 27 Feb 2013

I re-read this yet again for about the third or fourth time - it's an easy book to keep coming back to - especially as I've read it at very different times in my life.
It's hard to comment without really knowing for certain whether this is Gaarder's creation (which I continue to believe it to be) or actually a discovered text (which is possible) - however it certainly raises interesting rhetorical points in response to St Augustine's "Confessions."
I chose to re-read this as I have recently read Alain de Botton's "How to think more about sex" and I realised that "Vita Brevis" actually fulfils an important gap in the philosophy of sex (or at least, of physical companionship, of which sex is just one part) that I didn't felt met by de Botton.
I'm looking forward to revisiting it yet again. And again. And again.

Zahra
- Iran
3
Tue, 13 Jun 2017

بعد از خوندن چندتا از کتاب‌های یاستین گوردر این حس توی خواننده به وجود می‌یاد که انگار یه نفر داره آدم ُ تعقیب می‌‌کنه و آدم یهو برمی‌گرده تا مثلاً مچ اونی که تعقیب‌ش می‌کنه رو بگیره.
با وجود مقدمه‌ی اول کتاب٬ مدام این حس ُ داشتم که الانه که گوردر بپره وسط کتاب و بگه همه‌ش زاده‌ی تخیل‌م بود و منم بگم خودم می‌دونستم و الخ. ولی تا آخر کتاب٬ این اتفاق نیفتاد.
کتاب حاوی نامه‌هایی به آگوستین [از بزرگان مسیحیت] بود از طرف معشوقه‌ش که نقدهای جدی به عقاید کلیسا و مسیحیت در مورد احساسات انسان٬ نیازهایش‌ و زنان وارد کرده بود.
از شخصیت فلوریا و این همه آگاهی‌ش به عنوان یک زن در آن دوران خیلی خوشم آمد٬ ولی از کتاب چندان نه.
و خیلی نزدیکی تحلیل‌های فلوریا به افکار اسلامی به نظرم جذّاب بود.

maryam
- tehran, Iran
4
Fri, 11 Sep 2015

افراط و تفریط یکی از مهم‌ترین مسائلی است که پیروان همه ادیان در دام آن افتاده‌اند و می‌افتند.
این کتاب که در قالب یک نامه به یکی از همین افراطیون مسیحی نوشته شده است، دلیل و برهان‌های خوبی برای این دسته از انسان‌ها می‌آورد. این کتاب آدم رو به فکر می‌اندازد. سوال‌های زیادی در ذهن مطرح می‌شود در مورد اینکه هدف آفرینش چیست و انسان چطور و تا چه حد باید از زندگی لذت ببرد. ارزش‌های انسانی چیست. اختیار و جبر چه معنی دارد.و ...
جملات تامل‌برانگیز زیادی کتاب داشت که دوست دارم هرازگاهی برگردم و آنها را دوباره بخونم و برای خودم مرور کنم.

Smiliar Books of "Vita Brevis: A Letter to St Augustine"

Negeri Senja Pdf Book
by Seno Gumira Ajidarma
اكنون ميان دو هيچ Pdf Book
by Friedrich Nietzsche
Mereka Yang Dilumpuhkan Pdf Book
by Pramoedya Ananta Toer
Sastra dan Religiositas Pdf Book
by Y.B. Mangunwijaya
Manusia Menjadi Tuhan Pdf Book
by Erich Fromm
Olenka Pdf Book
by Budi Darma
Pintu-pintu Menuju Tuhan Pdf Book
by Nurcholish Madjid
Kau Memanggilku Malaikat Pdf Book
by Arswendo Atmowiloto
Tanah Tabu Pdf Book
by Anindita S. Thayf